Ta’aruf berkedok pacaran? atau Pacaran berkedok ta’aruf?

 

Belakangan ini banyak sekali akhwat dan ikhwan berbondong bondong hijrah. Tentu fenomena ini sangat membahagiakan seluruh umat islam terutama di Sumatera Barat, namun tinggi perkembangan hijrah di Sumatera Barat juga di ikuti oleh hijrah kekinian, yang mana kerap sekali hijrah hanya Sekedar untuk ikut ikutan dan jadi tren zaman agar dilihat baik didepan umum..

Hal ini mengakibat dampak yang begitu buruk bagi orang yang baru ingin hijrah. Seperti halnya ta’aruf zaman now, ta’aruf mengalami penyempitan makna dan bahkan dalam praktiknya, banyak yang mengidentikkan ta’aruf dengan pacaran. Salah satu penyebabnya adalah maraknya ta’aruf yang dilakukan oleh para ikhwan maupun akhwat di dunia maya. Padahal, sejatinya yang mereka lakukan itu adalah pacaran berkedok ta’aruf, karena dalam aksinya, tiada lagi hijab dalam interaksi bagi akhwat dan ikhwan bukan mahram, seakan bebas landas, curhat di jejaring sosial facebook, hujat-hujatan. Itulah pacaran terselubung dengan membawa topeng ta’aruf.

Jika mereka orang yang belum hijrah berani terang-terangan mangatakan pacaran, tapi tidak dengan ikhwan dan akhwat yang berciri khas hijrah kekinian, mereka berpacaran dengan ditutupi atau ditopengi dengan kata “Ta’aruf”. Entah yang ada didalam pikirannya, apakah sudah memahi ta’aruf yang sesuai syariat atau mereka sengaja menyelewengkan dari makna yang sebenarnya, banyak ikhwan dan akhwat dengan mudahnya mengatakan ingin ta’aruf dengan si dia yang diincarnya tanpa perantara pihak ketiga.

Mereka memakai kedok ta’aruf untuk melegalkan pacaran. Belum ada ikatan apapun sudah berani memanggil “umi-abi” ataupun panggilan panggilan lainnya. Tak sedikit pula ditemui akhwat berjilbab lebar yang masih membudidayakan pacaran. Tanpa malu-malu lagi. Apakah semua itu dilakukan karena ketidaktahuan akhwat tentang bagaimana Islam mengatur pergaulan dengan lawan jenis? Wallahu a’lam.

Hal ini mengakibat banyak sekali orang yang ingin hijrah berpikir dua kali untuk hijrah, ya tentu salah satu penyebab adalah hijrah kekinian dan ta’aruf zaman now ini. Pihak-pihak yang menyelewengkan ini menimbulkam perubahan artikata hijrah didalam menset beberapa orang.

Artikel AsadRabbani

Dara Melica

I'm a girl. I have a billion dreams.

Satu tanggapan untuk “Ta’aruf berkedok pacaran? atau Pacaran berkedok ta’aruf?

  • 27 Juli 2018 pada 4:19 AM
    Permalink

    Jadi, hijrah menurut agaan skaliaan gmana ?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *