Senioritas Bukanlah Anarkis (Sebuah Kontradiksi Pola Pikir)

RANTIANG.COM- Senioritas secara luas dapat diartikan status/tingkatan berdasarkan usia atau lamanya dalam suatu pekerjaan. Dalam tulisan kali ini, akan dibahas mengenai senioritas di dalam lingkungan kampus.

Senior di dalam lingkungan kampus adalah mahasiswa yang telah dahulu terdaftar di perguruan tinggi. Pada pemerintahan orde baru senioritas kampus berjalan dengan cara militer atau lebih tepatnya anarki. Terdapat semboyan klasik yang berbunyi “pasal 1. Senior selalu benar. Jika senior salah, kembali ke pasal 1”. Sungguh menggelikan, betapa beratnya penafsiran dari semboyan ini bahwa kebenaran absolut ada pada pola pikir senior. Namun tidak dapat disangkal, dengan praktek ini persatuan mahasiswa di Indonesia lebih kental. Dapat kita buktikan dengan masa penggulingan pemerintahan Presiden Soeharto

Bandingkan dengan generasi milenial saat ini. Dilatarbelakangi oleh kemajuan teknologi dan peradaban, saat ini mahasiswa mengalami krisis sosial. Peran dan fungsi mahasiswa tidak lagi berjalan sesuai dengan definisinya. Bagi mereka yang tau, mereka akan terus berusaha untuk menyadarkan yang tidak tahu. Namun konstitusi tidak mewajibkan bersosial adalah keharusan. Jangankan yang dibahas antara senior dan junior. Mengelompokan satu angkatan pun terbilang sulit. Kondisi ini secara tidak langsung dapat mengurangi kualitas persatuan mahasiswa indonesia

Tentunya masalah tersebut menimbulkan sebuah kontradiksi “perlukah adanya senioritas.?” Jawabannya YA sangat perlu. Namun paradigma ‘senior selalu benar’ tidak bisa dipakai karna bersifat anarkis, tidak demokratis dan menghambat kecerdasan bangsa. Hormatilah senior ‘HANYA’ karena pengetahuan mereka akan lingkungan kampus bukan takut akan anarkisme senior tersebut. Begitupun senior, harus menghargai dan menerima buah pikiran generasi baru sebagai satu kesatuan generasi penerus yang sangat berdampak pada arah dan tujuan bangsa. Jika ada suatu kesalahan pemikiran maka hal tersebut merupakan tanggung jawab dari senior untuk memperbaiki pola berfikir junior. Lebih dari itu kita memiliki hak yang sama sebagai insan yang akademis, sama-sama memiliki sudut pandang yang berbeda dan saling menghargai antar sesama sebagai bentuk dari persatuan indonesia.

Kesimpulannya adalah senioritas diperlukan dengan cara yang akademis guna membuka ruang diskusi sehingga meningkatkan kecerdasan mahasiswa agar lebih kritis dan menambah nilai diri perindividu. Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Bill Chatra Cham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *