Potret Kehidupan Bangsa di era Globalisasi

Pada era globalisasi yang serba instan ini, sangat banyak sekali dampak positif yang bisa diambil manfaatnya. Seperti kebutuhan informasi yang begitu cepat hingga dapat mendunia dalam hitungan detik. Internet merupakan sebuah jaringan penghubung global yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun kita berada.

Pada dasarnya, penggunaan internet inilah yang dapat memudahkan masyarakat pengguna/user dalam bertukar informasi yang dibutuhkan secara cepat dan akurat. (Dalam pembahasan kali ini, Penulis akan sedikit menggarisbawahi kata akurat.)

Setelah melakukan beberapa pengamatan. Dizaman yang serba cepatnya informasi beredar ini, masyarakat pengguna/user mengalami kecenderungan mudah percaya dalam mengkonsumsi sebuah informasi. Bahkan pembahasan dalam informasi tersebut terkadang bisa dibilang tidak masuk akal.

Sebagai contoh, dalam laman facebook ada sebuah gambar yang bertuliskan “like jika anda ingin bahagia, abaikan maka anda sengsara. Amiin”. Dari contoh tersebut, masyarakat pengguna/user berbondong bondong untuk like gambar tersebut. Ratusan bahkan ribuan like yang didapat.

Sebagai mahasiswa tentu ini sedikit menarik perhatian saya. Kenapa ? Mari kita identifikasi contoh tersebut. Dari kasus diatas, yang bisa diidentifikasi disana adalah bahwa masyarakat pengguna/user cenderung mengikuti hal tersebut hanya karena “ingin bahagia atau takut sengsara atau lebih parahnya lagi hanya mengikuti saja agar aman meskipun tidak pecaya”.

Seharusnya sebagai masyarakat pengguna/user yang pintar, merupakan keharusan untuk menganalisa informasi terlebih dahulu dengan mencari sumber yang pasti sebelum kita medeklarasikan pro dan kontra. Seperti “Apakah benar setelah saya like ini maka saya akan bahagia ?” “siapakah yang upload gambar ini sehingga bisa menentukan bahagia atau sengsaranya seseorang?” “apakah tujuan orang tersebut mengupload gambar tersebut ?”

Sedikit contoh diatas merupakan potret kehidupan bangsa kita di era ini. Keadaan yang seperti inilah yang seharusya membuat kita resah sebagai mahasiswa. Jika hanya dengan media sosial seorang oknum bisa menggerakkan pola pikir masyarakat saat ini, seperti apakah bangsa kita 5 atau 10 tahun yang akan datang ?. Apabila informasi tersebut mengandung unsur SARA, Bagaimanakah persatuan bangsa kita dimasa yang mendatang ?
Dari pembahasan diatas, maka timbul pertanyaan “Bagaimana Seharusnya, kita sebagai mahasiswa yang berperan sebagai Agent of change menyikapi dan mengatasi perihal problema tersebut ?”

Begitulah sedikit potret kehidupan bangsa di era ini. Semoga dengan adanya tulisan ini, rekan rekan pembaca bertambah ilmunya dan menjadi bahan renungan. Silahkan komentar,kritik,saran maupun tambahan dengan sopan. Terima kasih 🙂

Bill Chatra Cham

We can dream without drugs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *