ORGANISASI VS AKADEMIK

RANTIANG.COM – Memasuki tahun ajaran baru, tentu sangat membahagiakan bagi para mahasiswa baru. Karena mereka akan merasakan segala sesuatu hal yang baru, teman baru, universitas baru dan suasana yang baru. Mahasiswa baru juga memikirkan akan memasuki organisasi atau tidak, atau hanya fokus pada akademik saja.

Organisasi menurut pandangan umum merupakan sebuah sistem kerja oleh sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama, hal ini yang bisa membuat mahasiswa berinteraksi di dunia sosial. Mahasiswa itu bukan hanya sekedar pelajar, tetapi merupakan agent of change dalam artian kita bukan hanya menjadi penggagas perubahan melainkan menjadi objek atau pelaku dari perubahan tersebut. Selain itu mahasiswa juga merupakan social control bagi masyarakat.

Bagi sebagian orang menganggap organisasi tidaklah penting karna hanya akan membuang waktu dengan sia-sia, padahal banyak pelajaran yang akan didapatkan dari organisasi. Karena disanalah kita diajarkan untuk bertanggung jawab dengan pekerjaan kita, memanage waktu dengan baik, mempunyai banyak teman, dan juga bisa mengasah softskill. Di organisasi kita akan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga.

Akademik tidak kalah pentingnya dengan organisasi, karena dengan mempunyai nilai akademik yang baik juga akan menunjang kita dalam dunia kerja. Dimana nilai akademik dipandang pertama kali ketika kita akan melamar pekerjaan. Jadi organisasi dan akademik sama-sama penting, kita harus bisa menyeimbangkannya agar mendapatkan hasil yang maksimal dari pengalaman berorganisasi dan mendapatkan nilai yang baik di akademik.

Menurut salah satu mahasiswa STMIK Indonesia Padang tentang organisasi vs akademik mengatakan bahwa keduanya sama-sama penting, salah satunya tidak dapat dipisahkan. Jika cuma nilai akademik saja, yakin dan pasti lah kemampuan kita hanya akan di uji cuman sebatas angka-angka saja. Begitu juga dengan organisasi, jika sekedar organisasi saja yakin dan pasti lah kemampuan kita hanya akan dinilai dari omongan saja. Oleh karena itu kedua hal itu dibutuhkan dan tidak terlepas satu sama lain. Kemudian disatukan menjadi satu, barulah bisa dinamakan dengan kaum intelektual.

 

Sumber : Kompasiana

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *