Mahasiswi STMIK Indonesia Padang: Pemenang dua Medali Perunggu Porprov XV

RANTIANG.COM- Nurul Dzakiah adalah atlet dari cabang olahraga menembak pemenang dua medali perunggu XV yang merupakan seorang mahasiswi di STMIK Indonesia Padang.

Nurul Dzakiah sudah 8 tahun resmi menjadi atlet menembak. Ia pertama kali mengikuti kejuaraan porpov ditahun 2010 saat masih duduk di kelas sembilan.

Berikut adalah hasil wawancara kepada Nurul Dzakiah
” Duh gimana yaa, seneng banget pastinya, gak nyangka. Habisan kan aku atlet dari cabang olahraga menembak nih, kontingen kota bukittinggi. Nah perbakin cabang kota bukittinggi ini sejujurnya masih kurang banget dalam sarana dan prasarananya kalo buat cabor menembak. Jadi kita tuh cuma latihan di lapangan terbuka (outdoor) yang dipinjam dari polres bukittinggi. Pake peralatan seadanya (manual) yang pastinya jauh ketinggalan dari perbakin cabang lain. Termasuk dari pengadaan rifle (senapan laras panjang) dan pistol (senapan laras pendek) yang dipakai. Sekedar informasi, kita di bukittinggi rata2 pake rifle yang dulu sempat dipakai pelatih kita buat pon tahun 85, so udah tua banget pastinya riflenya. sedangkan cabor lain sekarang udah keren-keren banget riflenya udah keluaran terbaru semua rata-rata. Makanya kemarin pas dapat medali alhamdulillah banget rasanya bersyukur, dengan semua keterbatasan dan kekurangan yang kita punya, masih bisa menghasilkan medali. Aku dapat 1 perunggu buat kelas 10m air rifle match (laras panjang) senior putri beregu, dan 1 perunggu lagi dari kelas air pistol (laras pendek) senior putri beregu. Sebenarnya aku ikut 3 kelas beregu, satunya lagi 10m air rifle match mix tapi cuma sampe peringkat 4, beda 4 point sama yang dapat perunggu hiks. Alhamdulillah meskipun begitu, kota bukittinggi peringkat 2 untuk cabor menembak setelah kabupaten 50 kota”

Lalu, bagaimana target yang ingin dicapai Nurul Dzakiah selanjutnya? “Jujur aja sebenernya juga pengen ngerasain tingkat yang lebih lagi kan, porwil misalnya, pon atau yang lebih besar lagi karena sekarang kan masih tingkat daerah atau provinsi. Tapi yaa balik lagi selagi masih terbatas di perlengkapan, sarana dan prasarana yang belum bisa dibenahi sama kota maupun provinsi, kita atlet-atletnya susah buat coba pertandingan yang lebih besar lagi. Karena biaya yang diperlukan kan gak sedikit dan memang cukup memberatkan kalo harus dikeluarkan dari dana pribadi, apalagi perorangan. Jadinya yah paling atlet-atlet dari cabor yang perlu banyak perlengkapan dan persiapan bakal banyak stuck di event2-event daerah atau provinsi seperti porprov aja. Makanya kalo untuk target, paling semoga bisa ikut porprov lagi tahun 2020 terus dapat medali emasnya” Ungkap Nurul Dzakiah.

 

Liputan : Mutiara Dahriza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *