INDERAPURA PUNYA CERITA

Inderapura merupakan sebuah kampung yang terletak di Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan Jambi. Dahulunya Inderapura dikenal sebagai negeri kerajaan, Kerajaan Inderapura.

Kerajaan Inderapura pada masa jayanya meliputi wilayah pantai barat Sumatera mulai dari Padang di utara sampai Sungai Hurai di selatan. Kerajaan Inderapura ini pernah mengalami kejayaan pada abad 16-17.

Samuderapura yang menjadi Bandar kerajaan Inderapura sangat ramai dikunjungi oleh kapal-kapal dagang Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Kerajaan ini menjadi rebutan dari berbagai pihak dikarenakan posisinya sebagai kota pantai yang menjadi pusat perdagangan dengan komoditi utama emas, dan lada (merica).
Kerajaan Inderapura dikenal juga sebagai Ujung Pagaruyung. Kerajaan ini beribu kota di Inderapura (selatan Painan) merupakan pecahan dari kerajaan Pagaruyung. Kerajaan ini muncul seiring melemahnya kekuasaan Pagaruyung pada abad ke-15. Beberapa daerah pada kawasan pesisir Minangkabau lainnya seperti Inderagiri, Jambi, dan Inderapura dibiarkan mengurus dirinya sendiri.

Kapan tepatnya Kerajaan Inderapura mencapai status merdeka? Hal itu tidak diketahui dengan pasti. Namun, diperkirakan bertepatan dengan mulai maraknya perdagangan lada di wilayah tersebut, pada pertengahan abad ke-16, didorong usaha penanaman lada batas selatan Inderapura mencapai Silebar (sekarang Provinsi Bengkulu). Pada masa ini, Inderapura menjalin persahabatan dengan Banten dan Aceh.

Ketika Kesultanan Aceh melakukan ekspansi sampai wilayah Pariaman, Inderapura menghentikan ekspansi tersebut dengan manjalin persahabatan dengan Aceh melalui ikatan perkawinan antara Raja Dewi, putri Sultan Munawar Syah dari Inderapura dengan Sultan Firman Syah saudara Raja Aceh saat itu, Sultan Ali Ri’ayat Syah.

Lewat perkawinan ini dan kekuatan ekonominya, Inderapura mendapat pengaruh besar di Kotaraja (Banda Aceh). Bahkan, para hulubalang dari Inderapura disebut-sebut berkomplot dalam pembunuhan putra Sultan Ali Ri’ayat Syah, sehingga melancarkan jalan buat suami Raja Dewi naik tahta dengan nama Sultan Sri Alam pada 1576. Namun, kekuasaanya hnya berlangsung selama tiga tahun sebelum tersingkir dari tahtanya karena pertentangan dengan para ulama di Aceh.

Dalam beberapa cerita masyarakat ada yang mengatakan kalau kerajaan Inderapura tidak berada dibawah kekuasaan Pagaruyung. Tidak ada bukti yang dapat membuktikan Kerajaan Inderapura ini tunduk kepada Kerajaan Pagaruyung. Hal ini dilihat dari cara Kerajaan Inderapura mengurus kerajaannya baik keluar maupun kedalam.

Hal ini memang menjadi pertanyaan misterius untuk diungkapkan apakah ada hubungan antara Kerajaan Inderapura dengan Kerajaan Pagaruyung.

Walau sekarang Kerajaan Inderapura sudah tidak ada lagi tetapi bekas-bekas kerajaan itu masih dapat dijumpai di Muaro Sakai Inderapura, Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan. Diantaranya; Meriam besar yang terdapat di sekitar reruntuhan istana, benda-benda pustaka milik Kerajaan Inderapura, makam raja Inderpura, dan lain-lain.

 

Sumber :
Amran, Rusli (1981). Sumatera Barat hingga Plakat Panjang. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
Kathirithamby-Wells, J. (1976). “The Inderapura Sultanate: The Foundation of its Rise and Decline, from the Eighteenth Century. Indonesia 21: 65-84.
http://wisata-sejarah.blogspot.co.id/2009/04/menelusuri-jejak-jejak-kerajaan.html?=1
@inderapura.punya.cerita

 

Artikel by: Febi Fitria

Dara Melica

I'm a girl. I have a billion dreams.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *