Bangga! Atlet STMIK Indonesia Padang Unjuk Kemampuan di Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Sumatera Barat ke-XV

RANTIANG.COM– Bangga, mungkin salah satu ungkapan yang dirasakan oleh mahasiswa STMIK Indonesia Padang yang mengikuti PORPROV Sumatera Barat ke-XV yang diadakan di Padang Pariaman Hall PLN SUMBAGTENG yang berlangsung pada tanggal 24-27 November 2018. Yuhibbul Ikhsan merupakan atlet bela diri kempo yang berlaga di PORPROV utusan dari Kabupaten Agam.

Kempo adalah nama generik untuk beberapa aliran seni bela diri yang berasal dari Jepang dan banyak menggunakan permainan tangan. Jadi bukan nama satu aliran saja melainkan nama dari banyak aliran dan metode. Arti dari Kempo sendiri adalah beladiri dengan permainan tangan (di dalam bahasa Mandarin disebut Quanfa). (Wikipedia Indonesia)

Yuhibbul Ikhsan atau biasa disapa Yuhib telah berlatih selama 3 bulan dengan latihan rutin setiap harinya di bukit tinggi. Yuhib mulai menyukai bela diri kempo ini sudah lama, namun Yuhib mulai fokus menekuninya di semester 3 pada saat dia sudah menjadi seorang mahasiswa. Yuhib merupakan mahasiswa STMIK Indonesia Padang yang pada saat ini sudah berada pada semester 5.

Tiga kelas yang diikuti oleh Yuhib yaitu yang pertama kelas pertandingan renduri putra 55kg, Ia gugur pada no 16 dari 18 peserta. Yang kedua di embu berpasangan, Ia telah menampilkan yang terbaik namun ia hanya bisa mendapatkan peringkat no 4 dari 10 pasangan. Dan yang terakhir ia mengikuti embu regu putra, ia kembali mendapatkan peringkat no 4 dari 7 regu. Walaupun dalam hal ini ia tidak mendapatkan mendali, ia tetap semangat untuk menekuni bela diri tersebut. Menurutnya ini merupakan sebuah pengalaman baginya untuk bisa lebih baik lagi kedepannya.

Tidak hanya itu Yuhib juga membuat target dalam dirinya untuk bisa mengikuti POMNAS 2019 yang di adakan di Jakarta. Ia juga berharap mendapatkan dukungan yang penuh dari pihak kampus untuk bisa berlaga di acara POMNAS tersebut, ujar nya.

“Sempat tangan kiri tidak bisa digerakkan, bibir dalam juga berdarah. Cuma saya ingat pesan kedua orang tua saya, bahwasanya hidup dan mati itu Allah yang menentukan. Menang atau kalah itu takdir yang harus kita terima dan pertandingan tersebut harus tetap berjalan. Saya ingat proses latihan yang saya lalui sangat panjang, banyak yg harus dikorbankan. Di mata Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya tetapi proses yang telah kita lalui. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Allah” tutur Yuhibbul Ikhsan.

 

Penulis : Erfindo Candra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *