Bang Darren, Bangun!! (Part 2)

RANTIANG.COM– Beberapa hari kemudian Bunda pulang dari berbelanja di Pasar. Darren, Nasha dan Mike kompak menyambut dan membantu Bunda membawa barang-barang. Darren, Nasha dan Mike memang anak-anak yang baik, apalagi kalo di kantong belanja Bunda sekarang ternyata ada baju lebaran untuk ketiganya. Selain mendapatkan baju lebaran, Darren juga menerima sandal baru. Bukan karena pilih kasih, namun memang karena sandal lama Darren yang sudah tak bisa digunakan lagi.

“Alhamdulillah, rezeki anak soleh.” senyum Darren sembari menyikut-nyikut Nasha, memamerkan sandal barunya.

“Katanya anak soleh, tapi shalat subuhnya tinggal terus!” semprot Nasha yang diikuti derai tawa Bunda dan Mike. Darren diam saja, mulutnya jadi terkunci.

“Sudah, sudah. Darren, tolong Bunda buat awasi Mike mengisi buku pesantren ramadhan, ya? Nasha bantu Bunda masak.” titah Bunda, keduanya mengangguk patuh.

“Mike kalo gak tahu tanya Bang Darren aja.” kata Bunda lagi.

“Emang ceramah pesantren ramadhan Mike kemarin judulnya apa?” tanya Darren. Mike mengikuti pesantren ramadahan dari sekolah sebagai pengganti kegiatan belajar mengajar di kelas, karena itu masjidnya berbeda dengan masjid yang biasa didatangi Darren saat taraweh.

“Tentang enam pertanyaan malaikat dalam kubur.” jawab Mike.

“Oh, Man Rabbuka, Man Nabiyyuka, Ma Dinuka, Man Imanuka, Aina Qiblatuka sama Man Ikhwanuka, ya?” tanya Darren fasih.

Darren memang menempuh pendidikan menengah atas di madrasah aliyah. Sebagai anak laki-laki tertua, Darren memang diharuskan untuk menuntut ilmu agama lebih untuk nantinya membimbing adik-adik dan sebagai imam keluarga. Apalagi semenjak Ayah meninggal, Darren harus menggantikan posisi Ayah. Tak heran ilmu agama Darren cukup baik, bacaan shalatnya lumayan dan suaranya mengaji bisa dikatakan merdu. Tapi tetap saja sayang, karena shalat subuhnya masih sering tertinggal karena susah dibangunkan.

“Man Rabbuka itu artinya siapa Tuhanmu, jawabannya Allahu Rabbi. Nanti bakal ditanya saat kita berada di dalam kubur.” terang Darren sesederhana mungkin, agar lebih mudah dipahami Mike yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar.

“Jawabannya harus begitu?” Mike mengajukan pertanyaan.

“Iya dong. Kalo jawabannya salah, nanti dicambuk.”

“Tapi Mike gak bisa bahasa Arab.” cemas Mike polos.

Darren terdiam sebentar, memikirkan cara menjelaskan pada Mike, ” Kalo Mike rajin sedekah, shalat sama puasanya gak bolong-bolong, nanti bakal bisa.” singkat Darren.

“Kalo gitu Kak Nasha nanti gak bisa jawab.” seru Mike tiba-tiba. Nasha yang membantu Bunda memotong kangkung jelas mendengar tudingan Mike karena mereka berempat sama-sama duduk di meja makan.

“Loh? Kenapa?” tanya Nasha heran.

“Karena Kak Nasha tadi pagi minum air.” jawab Mike.

“Kapan?” Nasha kan tidak sedang halangan.

“Tadi, siap gosok gigi. Padahal udah imsak.”

“Oh, itu Kak Nasha bukan minum. Tapi kumur-kumur, biar mulutnya bersih.” senyum Nasha pada Mike.

“Hm, gitu ya? Mike juga mau kumur dong, pake nutrisari ya!”

Nasha, Bunda dan Darren terdiam menyaksikan keluguan Mike, namun tak lama mereka semua tertawa terbahak-bahak. Tinggal Mike yang kebingungan sendirian.

Bersambung..

Nantikan part selanjutnya teman-teman. Terimakasih 🙂

Cerpen by : Nurul Dzakiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *